Judul: Fw: Catatan
Kepada: herlinadani82@ymail.com
Tanggal: Rabu, 16 Mei, 2012, 10:10 PM
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: Sri Rahmi <bundasrirahmi@gmail.com>
Date: Wed, 16 May 2012 16:22:46 +0100
To: rahmipks@yahoo.co.id<rahmipks@yahoo.co.id>
Subject: Catatan
Prioritas Amal Bagi Akhawat Dalam Dakwah
Akhawati fillah...tulisan ini saya persembahkan untuk aktivis yang mencintai dakwah ini..
Dalam materi zaadudda'iyah, kita -akhawat- dituntut untuk mempersiapkan diri dalam hal ruhy (zaadurruhy), wawasan intelektual (zaadufikry) & persiapan fisik (zaadujasady).
3 dimensi di atas harus dipenuhi secara tawazun sebagai upaya menjadi muslimah yang paripurna dalam dakwah.
Zaadu ArRuhy
Tak satupun dari dimensi di atas bisa ditinggalkan. Ruhy, sebagai basic jiwa, sebagai pondasi aqidah, pondasi iman, pondasi ibadah.
Ruhy adalah kondisi jiwa yang terhubung dengan Allah swt. Ruhy yang menguatkan obsesi menuju syurga idaman para aktivis dakwah.
Kekuatan ruh melalui ibadah yang terjaga membantu kita untuk bisa tsabat dalam dakwah ini.
Ujian dalam perjalanan dakwah ini sungguh berat. Butuh kekuatan ruhy untuk melalui semuanya. Qiyamullail, tilawah dan shoum sunnah akan menjadi penjaga bagi aktifis dakwah. Menjaga mereka dari perbuatan dzalim yang tak disadarinya.
Ruhy yang mewarnai suasana rumahtangga para aktivis. Ruhy yang membuat rumahtangga para aktivis dakwah ini tetap bertahan di tengah badai.
Ruhy yang menyatukan 2 insan berlainan jenis dalam sebuah ijab qabul.
Reflexi
- Sudahkah kita memiliki amalan ibadah yang pantang kita tinggalkan dalam sehari?
- Sudahkah kita membuat perjanjian dengan diri sendiri untuk meng iqob diri ketika lalai dalam ibadah tertentu?
Zaadu Al Fikroh
Menjadi seorang aktivis, melakoni peran sbg muballighat jelas dituntut untuk mengatahui banyak hal.
Sebagai aktivis, sebagai daiyah, akhwat harus menjadikan dirinya sebagai panutan dalam beragam hal. Kepandaian dalam akademik, tashawwur yang luas, akan sangat mempengaruhi penerimaan obyek dakwah.
Sebagai pelajar, mahasiswa yang mewakafkan dirinya pada dakwah haruslah tampil cakap dalam kiprahnya. Sebisanya dia menjadi uswah dalam kecerdasan akademiknya. Bukan hanya membimbing dalam hal keagamaan tp juga berupaya membimbing dalam akademiknya.
Akhawat secara umum harus mampu membekali dirinya dengan beragam ilmu, karena identitas yang melekat pd dirinya sbg daiyah membuat dirinya sering dijadikan referensi fatwa di masyarakat.
Dalam muwashoffat semua rutbah ada mutsaqaful fikr yang titik tekannya berbeda di tiap rutbah. Untuk kader inti madya ke atas, tuntutan tarbiyah dzatiyahnya sangat terasa. Kader dituntut utk memiliki specialis bidang tertentu. Di point yang lain kader diminta untuk mempelajari bidang di luar specialisasi mrk. Dan bbrp point lainnya yg menunjukkan betapa fikriyah ini sangat diperhatikan dalam pembinaan syakhsiyah kader.
Sebagai syakhsiyah, zaadufikroh sangat dituntut kepada kader, pun sebagai istri, akhawat harus tampil sebagai istri yang cerdas. Mengelola rumahtangga butuh ilmu. Akan sangat berbeda citarasa rumahtangga yang dikelola dengan ilmu dibanding rumahtangga yang dikelola tanpa ilmu.
Mengatur keuangan rumahtangga butuh ilmu.
Pun akhawat sebagai seorang ibu wajib baginya membekali diri ilmu tarbiyatul 'aulad dalam mendidik anak-anaknya.
Simpulannya, apapun peran akhawat, bekal ilmu itu wajib. Agar peran yang dilakoninya maksimal.
Refleksi
- Sudahkah kita mewajibkan diri membaca buku dalam sehari? atau minimal dalam sepekan?
- Sudahkah kita memiliki budaya diskusi bersama keluarga?
Zaadu Al jasady
Persiapan jasad tak kalah pentingnya. Sehingga ada sebuah hadits yang mengokohkan pentingnya keunggulan jasad.
"Mu'min yg kuat lbh dicintai Allah daripada mu'min yg lemah".
Bagaimana mungkin semua amanah2 dakwah terlaksana dengan baik tanpa fisik yang mumpuni?
Pekerjaan dakwah ini butuh fisik yg kuat. Dalam risalahnya, imam syahid Hasan Al Banna menempatkan qawwiyul jism sebagai urutan pertama dalam muwashofat.
Dalam qowaid fiqhiyah tentang kepemipinan, jika kita diperhadapkan pada 2 pilihan : si A yang sholih tapi penyakitan. Si B yang fasad tapi kuat, maka dalam qowaid fiqhyah nya, kita dianjurkan untuk memilih si B. Kekuatan fisik menjadi prioritas dalam kepemimpinan.
Kekuatan fisik tidak lahir begitu saja. Upaya-upaya menguatkan fisik harus dilakukan. Untuk itulah riyadhoh menjadi sesuatu yang wajib bagi kader.
Point ini amat sering ditinggalkan oleh kader. Bahkan dalam majlis-majlis halaqo, point ini amat jarang di evaluasi. Padahal, ruhy, fikry, jasady adalah dimensi tarbiyah yang tidak boleh terpisahkan. Tarbiyah adalah proses melahirkan generasi unggulan dalam 3 dimensi tersebut. Islampun mengajarkan kita untuk kaafffah dalam berislam. Menyentuh 3 dimensi tersebut menjadi indikator kaaffahnya kehidupan keislaman kita.
Reflexi
- Sudahkah kita menyisihkan waktu dalam sehari untuk berolahraga?
- Pedulikah kita terhadap kualitas makanan yang dikonsumsi keluarga? Khususnya makanan untuk anak2.
Itulah gambaran umum tentang prioritas amal akhwat dalam dakwah.
Sekarang saya akan masuk dalam pembahasan amalan dengan konteks kekinian, amalan-amalan yang sesuai dengan mihwar nya.
Dalam konteks kekinian, di mana sekarang kita berada pada mihwar transisi antara siyasi menuju daulah. Peran-peran baru banyak menuntut akhawat. Suka tidak suka, selama itu adalah misi gerakan dakwah kita, maka akhwat harus memaksa dirinya untuk memenuhi tuntutan mihwar tersebut.
Dalam berbagai kesempatan, ketika saya berkesempatan memberi taujih kepada akhwat, saya senantiasa berulang mengingatkan bahwa SDM akhwat harus kompatable dengan mihwarnya.
Dalam mihwar siyasi ini, banyak peran yang tak pernah dilakoni di mihwar sebelumnya. Tapi sebuah tuntutan dakwah bahwa mihwar inipun membutuhkan keterlibatan akhawat, sehingga akhwat harus mempersiapkan diri untuk berkontribusi pada mihwar tersebut.
Dalam menuju mihwar dauly, banyak hal yang harus dipersiapkan.
Saya senantiasa mengingatkan, agar akhawat meningkatkan kompetensinya. Saya mengatakan, kita ingin bersama dalam setiap mihwar. Saya ingin melihat akhawat sekarang menjadi kawan perjuangan di mihwar selanjutnya. Tidak boleh ada yang tertinggal. Bagaimana caranya?
Sesuaikan SDM dengan kebutuhan mihwar agar akhwat bisa tetap eksis berkontribusi di mihwar selanjutnya, karena mereka sudah mempersiapkan diri untuk itu. Kualifikasinya dibutuhkan pada mihwar tersebut.
Intinya, tingkatkan kompetensi sesuai kebutuhan mihwar.
Bagaimana cara identifikasi kebutuhan mihwar?
Fahami mihwar nya. Fahami kebutuhan SDM mihwar nya. Sehingga kader membekali diri dengan skill, pengetahuan sesuai kebutuhan mihwar. Kader yang bisa meng grade kapasitas sesuai tuntutan mihwar, dia bisa berkontribusi maksimal pada mihwar nya. Agenda2 mihwarpun lancar, karena jamaah mampu menyediakan SDM yang dibutuhkan.
Tugas murabbi/naqib memastikan kualitas kader yang ada sekarang mampu menjawab kebutuhan mihwar ke depan. Persiapannya harus dimulai dari sekarang.
Refleksi
- Peran apa yang kita ambil di lingkungan rumah tempat mukim kita?
- Sudahkah kita menyisihkan waktu khusus untuk rabthul 'am?
- Sudahkah kita itqon dengan professi yang sedang dilakoni?
Wallahu 'alam
luar biasa!
BalasHapus