negeri Islam terbesar di dunia dalam
jumlah penduduknya. Telah merasakan kepedihan penjajahan asing dari
negara-negara Barat seperti Portugal, Belanda dan Jepang. Sehingga isu umat
Islam di negara ini menjadi ingatan setiap muslim di penjuru dunia dan menyibukkan
opini nasional serta dunia Islam.
Oleh karena Al-Ikhwan Al-Muslimun
(IM), sejak awal, sangat konsen dengan persoalan umat Islam di Indonesia dan
menempati level opini dan praktis.
Di level opini, IM berperan dalam
menampilkan isu umat Islam Indonesia dan mengecam tindak kejahatan penjajah
yang dilakukan di atas negeri Indonesia. Salah satu upaya itu adalah
mengirimkan kawat telex kecaman penindasan Belanda atas Indonesia.
Terkait persoalan kemerdekaan rakyat
Indonesia, kantor pusat IM mengirimkan surat protes kepada Sekjen Dewan Majelis
Umum PBB dan Menteri Belanda di Mesir. Isi surat tersebut adalah sebagai
berikut:
“Serangan Membabi-buta Belanda ke
Indonesia adalah tindakan penindasan terhadap dunia Arab dan Islam, serta rasa
kemanusiaan secara umum. Oleh karena itu, IM, atas nama bangsa Arab dan Islam,
meminta pertanggungjawaban negara Anda atas tumpahnya darah saudara muslim
mereka di negeri Indonesia yang independen.”
IM di wilayah Lembah Nil, memprotes
penjajahan Belanda atas bangsa Indonesia. Mereka meminta kepada PBB, atas nama
dunia Arab dan Islam, untuk intervensi dalam urusan ini, menghentikan
penjajahan dan memutuskan keputusan yang benar.
Dalam beberapa konfrensi IM, banyak
dipertegas tentang penguatan hubungan antara negara-negara Arab dengan
negara-negara tetangganya non Arab, seperti Indonesia.
Sebagai contoh, dalam konfrensi
rakyat pertama IM yang diselenggarakan di Kairo pada bulan Oktober 1945 ada
tuntutan wajib mengakui kemerdekaan Indonesia dan dijaga dari campur tangan
asing manapun.
Al-Imam Al-Banna juga menempatkan
isu penjajahan Indonesia ini dalam persoalan yang bisa menghadang kebangkitan
Islam. Dalam risalah berjudul “Problematika kita dalam konteks sistem Islam”
Al-Banna mengatakan; ”Dan Indonesia yang jumlah penduduknya mencapai 70 juta
jiwa, dengan mayoritas muslim, ditekan oleh Belanda yang terus melanjutkan
penjajahan Sekutu atas negeri-negeri Islam. Belanda ingin menjauhkan bangsa
Indonesia dari hak utamanya untuk bebas dan merdeka.”
Bidang Hubungan Dunia Islam dan Isu
Indonesia:
Adapun di level praktis, bidang
hubungan Dunia Islam IM, sejak pendiriannya tahun 1944, menjalankan peran aktif
untuk memperkuat hubungan antara IM di Mesir dan kaum muslimin Indonesia.
Bidang ini sengaja menghubungkan negeri Islam satu dengan negeri-negeri
lainnya, menyatukan kebijakan umum dan mendirikan komisi Timur Jauh, mencakup
negara-negara timur dan tengah Asia, termasuk didalamnya Indonesia.
IM juga merangkul gerakan Islam
pejuang di Indonesia. Salah satu gerakan itu adalah Gerakan Pejuang dibawah
pimpinan Ahmad Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan orang-orang yang
serius berjuang hingga Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Kemudian
mengumumkan deklarasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang
ditanda-tangani oleh Soekarno dan Hatta.
IM memiliki pengaruh baik dalam
gerakan Indonesia, bahkan sebuah partai Islam menyatakan bergabung dengan IM.
Demikianlah IM terus mendukung
rakyat Indonesia hingga mencapai kemerdekaan tahun 1945. Beberapa delegasi
Indonesia datang ke kantor pusat IM sehingga tali hubungan ini semakin kuat.
Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar memiliki
peran dalam membawa ideologi IM saat mereka pulang ke negaranya lalu
menyebarkannya.
Gaung Dakwah IM di Indonesia:
Indonesia menyambut baik dakwah IM.
Pemuda dan putera-putera terbaik Indonesia bergabung dibawah panji IM.
Rumah-rumah IM di Kairo dan negara-negara Arab menyambut para pejuang dan
pemimpinnya. Kantor pusat IM, dari belakang, mensupport bangsa Indonesia
semuanya, mendukung isu Indonesia. Bahkan membuat kolom khusus tentang isu
Indonesia, dalam koran IM.
Secara terus terang, IM mengecam
kekejaman Belanda yang memaksakan kehendaknya kepada bangsa Indonesia dengan
kekuatan senjata.
Tanggal 20 Agustus 1946, Mursyid ‘Am
IM menerima kawat telex dari warga Indonesia yang tinggal di Mekkah. Isinya
sebagai berikut:
“Kami menyampaikan aspirasi atas
upaya Anda dalam membela isu Indonesia dan sekaligus mengucapkan selamat atas
setahun dari kemerdekaan Indonesia.”
Malam tanggal 6 Mei 1946, delegasi
Indonesia dipimpin oleh H. Agus Salim, Deputi Menlu Indonesia berkunjung ke
kantor pusat dan koran IM. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih Indonesia
atas dukungan IM kepada mereka.
Tanggal 10 November 1947, mantan PM
Indonesia dan penasehat Presiden Soekarno, Sutan Syahrir, berkunjung ke kantor
pusat dan koran IM. Kedatangann mereka disambut dengan gembira dan meriah oleh
IM.
Kantor pusat IM mendukung komisi
yang pernah dibentuk untuk solidaritas Indonesia dan Mursyid ‘Am dipilih
menjadi salah satu anggotanya.
IM juga memberikan ruang besar,
khususnya di majalah “Al-Muslimun” kepada pemikir-pemikir dan juru dakwah
Indonesia untuk menuangkan ide-idenya di majalah tersebut. Salah satu
contohnya, pejuang Dr. M. Natsir yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Imam
Al-Banna dan manhaj IM dalam melakukan perubahan (reformasi). Ust. Abdullah
al-Aqil, semoga Allah merahmatinya, mengomentari Dr. M. Natsir. Saat itu M.
Natsir ditanya tentang ulama dan tokoh yang berpengaruh. Dalam jawabannya, M.
Natsir menyebutkan, salah satu tokoh berpengaruh itu adalah Imam Hasan
Al-Banna.
Imam Al-Banna dalam Pandangan Orang
Indonesia:
Salah satu bentuk interaksi kuat
antara IM dan bangsa Indonesia adalah catatan-catatan dari sejumlah rakyat
Indonesia yang menyanjung ketokohan Imam Al-Banna. Catatan-catatan ini sudah
dimuat dalam majalah “Al-Dakwah” edisi 104 tahun ketiga tanggal 25 Jumadil Awal
1372 H atau bertepatan 10 Februari 1953.
Ulama Indonesia, Ust. Muhammad
Hasyim, mengomentari peran asy-Syahid Al-Banna dalam isu Indonesia:
“Memperingati kesyahidan Ust. Hasan
Al-Banna, rakyat Indonesia mengingat upaya besar dan pengaruh dukungan beliau
kepada isu Indonesia di Mesir dan timur Arab. Mereka mengenang dalam peringatan
kesyahidan Al-Banna, apa yang mereka dapatkan dari dampak dakwah IM, yang
diwakili oleh Imam asy-Syahid. Gaung dakwah IM dirasakan oleh seluruh kaum
muslimin di Indonesia. Dakwah yang menyerukan untuk mengambil ajaran-ajaran
Islam dan menerapkan risalah agungnya.
Almarhum Hasan Al-Banna, memiliki
kenangan dakwah tersendiri di mata pemuda Indonesia karena konsen beliau
membela isu Indonesia di negaranya, Mesir. Koran, majalah dan percetakan IM
menjadi ruangan luas bagi aktualisasi kegiatan dan mengkampanyekan isu
negaranya.
Saya berharap dalam peringatan ini,
agar tali hubungan antara negara Indonesia dengan Mesir terus menguat. Saya
mengharap IM bisa berjalan sesuai dengan konsep yang dirintis oleh Imam Syahid
dalam berdakwah dan bekerjasama antar umat Islam. Semoga Allah ta’ala merahmati
Imam Syahid dan meridhoinya.”
Ust. Ahmad Hasyim, perwakilan warga
Indonesia di Mesir, di majalah yang sama (edisi 52) tanggal 16 Jumadil Awal
1371/ 13 Februari 1952, mengomentari dengan mengatakan:”Orang Indonesia menilai
bahwa gerakan IM adalah gerakan Islam yang berupaya membebaskan bangsa-bangsa
muslim dari penjajahan. Mereka menemukan prinsip-prinsip ini ada dalam IM dan
upaya asy-Syahid Imam Al-Banna dalam membela isu Indonesia bersama
perjuangannya. Sehingga buku dan majalah IM menjadi pusat perjuangan membela
Indonesia untuk meraih kemerdekaannya.
Oleh karena itu, para pemimpin
Indonesia yang sedang berkunjung ke Mesir, dari berakhirnya perang hingga
kesyahidan Imam Syahid Al-Banna, selalu kunjungan dan ketemu dengan Al-Banna
selalu menjadi agenda utama kunjungan mereka itu.
Dari sejumlah pertemuan dengan
Almarhum Hasan Al-Banna, penulis menemukan kekuatan Islam dalam dirinya. Beliau
sangat konsen dengan isu-isu pembebasan negeri-negeri Islam dari penjajahan.
Kita berhutang budi kepada asy-Syahid Al-Banna.
Sumber rujukan:
- Majmu’atur rasail Imam asy-Syahid
Hasan Al-Banna, dar tauzi wan nasr Islamiyah.
- Qolu ‘anil Imam Al-Banna, Jum’ah
Amin Abdul Aziz, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.
- Silsilah min turotsil Imam
Al-Banna; Qodhoya Alam Islami, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.
- Silsilah min turotsil Imam
Al-Banna; ilal ummah nahidhoh, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.
- Min A’lami dakwah wal harokah
islamiyah al-muaseroh: Ust. Abdullah al-Aqil, jilid pertama, cet. Darul Bashir.
- ikhwan wikipidea. (io/mar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar